Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
![]() |
| Wawancara Kepala SMAN 3 Lingga,Bapak Josua Ginting, S.Pd |
Pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi
Pratap Triloka (Ing Ngarsa Usng Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri
Handayani terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran adalah ketika guru mampu
menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah seringkali kita dihadapkan pada
berbagai dilema etika dan bujukan moral.
Berdasarkan keadan tersebut maka guru harus memiliki kompetensi dan peran
sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hajar Dewantara dengan
caramenjadi sosok yang dapat menjadi teladan yang positif, motivator,
fasilitator dan mampu membentuk karakter positif kepada murid untuk mewujudkan profil
pelajar pancasila .Dalam pengambilan keputusan guru juga dapat menggunakan 9
langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan
Bagaimana nilai nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh pada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita akan
berpengaruh pada prinsip-prinsip yang akan kita ambil nantinya dalam pengujian
dan pengambilan keputusan. Pada proses pengambilan keputusan, kita mengenal
tiga prinsip yang meliputi: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil
dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita. Guru dalam memberikan pelayanan dan pembelajaran juga
harus memiliki rasa empati terhadap murid agar murid memiliki rasa terbuka dan
berminat terhadap pembelajaran yang kita berikan, hal ini merupakan salah satu
prinsip ber berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Keterkaitan pengambilan keputusan dengan kegiatan coaching sangat efektif, karena dengan mempelajari materi coaching kita dapat mempelajari cara berkomunikasi yang memberdayakan (asertif), teknik mindfullnes, dan coaching model TIRTA. Artinya, dengan kemampuan dalam menerapkan coaching untuk membantu memecahkan permasalahan yang dialami oleh murid atau komunitas praktisi di sekolah merupakan cara dalam pengambilan keputusan ketika dihadapkan pada dilema etika dan bujukan moral. Selain itu dalam pengambilan keputusan juga menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengujian dan pengan... keputusan bersama murid atau komunitas praktisi di sekolah.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Dasar pengambilan keputusan adalah nilai-nilai kebajikan yang tidak bertentangan dengan dilema etika atau bujukan moral. Dalam proses mengelola aspek sosial dan emosional dalam pengambilan keputusan maka diperlukan teknik mindfullnes atau kesadaran penuh, hadir sepenuhnya dalam masalah yang dialami dan mampu memahami tujuan pembelajaran sosial emosional. Ketika guru mampu menerapkan mindfullnes yang didalamnya juga terdapat nilai-nilai kebajikan, make dalam pengambilan keputusan akan berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya,
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Sebagai seorang pendidik tentunya kita akan dihadapkan pada situasi dilema etika atau bujukan moral di lingkungan sekolah. Penanganan masalah pada studi kasus yang telah di sediakan memberikan contoh dan praktik secara langsung merupakan masalah yang sering kita jumpai di sekolah baik yang dialami oleh murid maupun guru dalam proses berinteraksi di sekolah. Adanya teknik 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan akan memberikan rambu-rambu dalam penyelesaian dilema etika atau bujukan moral yang dihadapi.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan memiliki arti yang penting bagi berkembangkan sebuah organisasi atau satuan pendidikan. Pada pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap organisasi atau lembaga ke arah yang lebih baik, berkembang dan mampu mewujudkan visi dan misi yang telah disusun. Namun jika dalam pengambilan keputusan terjadi kesalahan, maka akan berdampak buruk bagi organisasi atau lembaga tersebut, sehingga dalam melakukan pengambilan keputusan harus berpedoman pada paradigma, prinsip dan 9 langkah dalam proses pengujian dan pengambilan keputusan.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Perubahan tidak dapat dibangun secara instan, namun ada proses yang harus dilewati dan dikerjakan agar dapat terwujud. Perlu adanya sosialisasi dan komunikasi secara terus-menerus agar lingkungan yang masih menggunakan paradigma lama akan memiliki pemahaman baru dan mampu beradaptasi dengan adanya perubahan. Pengambilan keputusan atas adanya perubahan maka perlu dilakukan dari hal kecil agar menjadi kebiasaan dan budaya positif dalam lingkungan tersebut. Dengan berdasarkan pada visi dan misi serta tujuan sekolah, maka akan mencapai perubahan yang dapat diterima oleh lingkungan atau warga sekolah.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Hal itu memiliki pengaruh, karena kita sebagai pemimpin pembelajaran tentunya sudah memahami pokok-pokok atas perubahan yang salah satunya pembelajaran berpihak pada murid, sehingga seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan pengambilan keputusan mampu memfasilitasi dan memerdekakan murid dalam proses pembelajaran di sekolah.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Sebagai seorang guru yang selalu memberikan bantuan pembelajaran dan pelayanan konseling kepada murid akan selalu memperhatikan rencana jangka panjang yang akan dihadapi seorang murid ketika terjun ke masyarakat, sehingga guru harus menjadi motivator, coach dan pengaruh yang baik kepada murid serta mengajarkan keterampilan hidup kepada murid agar mampu beradaptasi dan memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang dapat diambil dari modul yang sudah saya pelajar ini dan kaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa sebagai guru yang merupakan pemimpin pembelajaran bagi murid dan komunitas praktisi di lingkungan sekolah maka diharapkan mampu memiliki sikap among berdasarkan Pratap Triloka yang dapat membantu murid dalam tumbuh kembang dan menjadi modelling bagi lingkungannya. Selain itu, kemampuan guru dalam pengambilan keputusan didasari oleh kemampuannya dalam melaksanakan coaching, sehingga pengambilan keputusan yang diperoleh memberikan dampak positif bagi murid dan sekolah.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Dilema etika (benar vs
benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua
pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan
bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang
harus membuat keputusan antara benar dan salah. Paradigma pengambilan keputusan
antara lain Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan
lawan rasa kasihan ( justice vs mercy). Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs
loyalty), dan langka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)r.
Sedangkan pinsip pengambilan keputusan ada 3 yaitu, Berpikir Berbasis Hasil
Akhir (Ends- Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based
Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Untuk 9
langkah pengujian dalam pengambilan keputusan yaitu mengenali nilai-nilai yang
saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta- fakta
yang relevan, melakukan pengujian benar-salah, menguji paradigma benar lawan
benar, melakukan prinsip resolusi, melakukan investigasi opsi trilema, membuat
keputusan dan merefleksinya.
Yang menurut saya diluar dugaan adalah tentang serangkaian pengujian keputusan yang sangat banyak, bagaimana jika keputusan yang diambil tidak bisa menunggu lama, dan memerlukan keputusan secepatnya?
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah.
Saat itu dilema etika yang saya alami termasuk pada paradigma Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Saat itu saya hanya mengandalkan keputusan hasil akhir yang sekiranya tidak merugikan.
Setelah saya mempelajari Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai sebagai Pemimpin, ternyata sebuah kasus bisa di identifikasi merupakan kasus dilema etika atau bujukan moral. Dan perlu di putuskan dengan melalui langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan agar dapat dipertanggung jawabkan dengan baik.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Menurut saya, dampaknya sangat banyak sekali, terutama saya jadi lebih paham bahwa situasi dimana dua pilihan benar itu dinamakan dilema etika, sedangkan situasi ketika dihadapkan pada pilihan benar dengan salah dinamakan bujukan moral serta langkah-langkah menguji dan mengambil keputusan secara tepat.
Perubahan yang terjadi pada cara saya sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran Modul 3.1 ini adalah Sebelumnya, saya lebih ke prinsip hasil akhir tanpa memperhatikan dan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan. Namun setelah mempelajari Modul 3.1 ini, saat saya mengalami suatu situasi tersebut, langsung bisa saya identifikasi apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral, merupakan paradigma dan prinsip mana yang diambil serta 9 langkah pengambilan keputusan yang akan diterapkan.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sebagai seorang pemimpin, sangat penting dalam
mempelajari Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai sebagai
Pemimpin karena sebuah keputusan yang diambil harus berdasarkan beberapa
pertimbangan sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggung jawabkan
dengan baik dan tidak salah langkah apalagi sampai merugikan orang lain yang
nantinya justru akan menimbulkan perselisihan atau kekacauan di masa depan.
Dengan mempelajari Modul 3.1 ini, diharapkan seorang pemimpin dapat mengambil
keputusan secara bijak dan keputusannya merupakan suatu keputusan yang terbaik***
Thanks for reading Koneksi Antar Materi 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai kebajikan Sebagai Pemimpin. Please share...!

0 Comment for "Koneksi Antar Materi 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai kebajikan Sebagai Pemimpin"
Mantaap