[cekguharakie]-Khutbah Jumat
MENITI
JALAN HIDAYAH
Khutbah
Pertama
الۡـحَمۡدُ لِلّهِٰ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ، نَـحۡمَدُهُ وَنَسۡتَعِيۡنُهُ
وَنَسۡتَغْفِرُهُ، وَنَعُوۡذُ بِاللّٰهِ مِنۡ شُرُوۡرِ أَنۡفُسِنَا وَمِنۡ سَيِّئَاتِ
أَعۡمَالِنَا، مَنۡ يَهۡدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ
لَهُ.
أَشۡهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيۡكَ
لَهُ، وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمۡ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ
أَجۡمَعِين، وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ إِلَى يَوۡمِ الدِّيۡن.
أَمَّا بَعۡدُ:
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوۡصِيۡكُمۡ وَ نَفۡسِى بِتَقۡوَى اللَّهِ
فَقَدۡ فَازَ الۡمُتَّقُوۡنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ))
((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَقُولُوا قَوۡلًا سَدِيدًا يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَالَكُمۡ
وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ۞ وَمَنۡ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدۡ فَازَ
فَوۡزًا عَظِيمًا))
Ma’syiral Muslimin Wal Hadirin
Rahimakumullah
Setiap hari yang kita
lalui selalu diringi dengan berbagai macam peristiwa, baik yang biasa maupun
yang tidak biasa bahkan diluar kemampuan akal dan jangkauan pikiran kita.
Seperti Gempa yang tak berhenti di Lombok, Bencana Likuifaksi atah tanah
bergerak di Palu dan yang masih segar ingatan kita jatuhnya pesawat Lion Air JT
610.
Dan sebagai hamba Mya
kita berharap segala peritiwa yang terjadi tentunya sebagai sarana bagi kita
untuk terus mendapatkan petunjuk tentang misi kehidupan ini, mendapatkan
hidayah darinya dalam upaya semakin mendekatkan diri dari pada Nya , Allah Azza
Wa Jalla
Untuk itu para hadirin,
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita
kepada Allah Swt, agar semakin diberi kekuatan dalam meniti jalan hidup ini,
selalu mendapat petunjuk hidup darinya. Dan berharap senantiasa dalam keistiqomahan.aamin ya rabbal aaalamin
Sidang Jumat Rahimakumullah
Adapun Judul Khutbah yang hendak Khatib sampaikan
pada khutbah singkat ini berjudul Meniti
Jalan Hidayah
Hadirin kaum
muslimin rahimakumullah …
Hidayah secara bahasa berarti petunjuk, lawan
katanya adalah “dholalah” yang
berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), hidayah ialah penjelasan dan
petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan
di sisi Allah. Allah ta’ala
berfirman:
أُولَٰئِكَ
عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari
Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (QS.
Al-Baqarah: 5)
Hidayah dalam
Al-Qur’an tercantum dalam sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 hadis.
Sedangkan penjelasan mengenai pengertian hidayah dalam Al-Qur’an dan hadis
berjumlah sekitar 27 makna, yang terangkum dalam 3 pengertian:
Pertama: Hidayah al-khalq, yaitu petunjuk yang
datang bersamaan dengan penciptaan manusia berupa naluri, panca indra dan akal
pikiran. Dengan hidayah ini manusia memiliki kemampuan untuk berfikir, memahami
dan kebebasan memilih.
Kedua: Hidayah al-irsyad wal bayan, yaitu petunjuk yang berupa penjelasan,
pengetahuan, pengajaran, argumentasi, agama Islam, Sunnah dan Al-Qur’an. Dengan
hidayah ini manusia memiliki tuntunan (guidance)
dalam melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah.
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
Dialah yang mengutus Rasul-Nya
dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas
segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya. (QS. Ash-Shaff [61]: 9)
Ketiga: Hidayah at-taufiq, yaitu ketepatan atau
kesesuaian antara kehendak diri dengan ketentuan Allah. Dengan hidayah ini
manusia mendapatkan kemudahan dalam menjalankan aktivitas mentaati-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Allah ta’ala berfirman:
فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ
لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا
حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ
الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
Barangsiapa yang Allah menghendaki
akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk
(memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dihendaki Allah kesesatannya,
niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang
mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak
beriman,” (QS. Al An’am [6]:125)
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah …
Hidayah merupakan petunjuk yang menjadi sebab utama
keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barang
siapa dimudahkan oleh Allah untuk meraihnya, maka ia telah mendapatkan
keberuntungan yang sangat besar. Sebaliknya, barang siapa yang tidak
memperolehnya maka ia mendapatkan kerugian yang besar. Allah ta’ala
berfirman,
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ
الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi
(dunia dan akhirat)” (QS. al-A’raaf:178).
Atau dalam ayat yang senada, Allah
berfirman:
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS. al-Kahf:17)
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS. al-Kahf:17)
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah …
Kita sebagai
seorang muslim, telah diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasulnya agar
senantiasa meniti jalan hidayah, dimanapun dan sampai kapanpun. Tidak boleh ada
ruang dan waktu yang kita lalui luput dari hidayah. Dalam hal ini, kita selalu
mengucapkan permohonan hidayah kepada Allah, dalam setiap Shalat yang kita lakukan,
khususnya ketika membaca Al-Fatihah.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۞ صِرَاطَ الَّذِيْنَ
اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ۞
Berikanlah kepada kami hidayah ke
jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat. (QS. Al-Fatihah [1] : 6-7)
Imam Ibnul
Qayyim berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan
tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan) yang dilakukan maupun yang
ditinggalkannya.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah …
Ketika kita
mendawamkan mengucapkan do’a di atas, itu artinya bahwa hidayah itu harus
diminta, harus dicari, harus dikejar dan harus dijaga.
Pertama: Hidayah harus
diminta, karena hidayah adalah milik Allah. Kita sebagai hamba Allah harus
aktif meminta hidayah hanya kepada Allah.
وَلَوْ شِئْنَا
لَاٰتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰىهَا وَلٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ
لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap
jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu:
"Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia
bersama-sama." (QS. As-Sajdah [32] : 13)
Tidak semua
orang bisa mendapatkan hidayah. Hanya orang-orang yang dikehendaki Allah
sajalah yang akan mendapatkan hidayah tersebut. Bahkan Rasulullah-pun tidak
bisa memberikan hidayah, meskipun kepada orang-orang yang ia cintai. Allah
ta’ala berfirman:
اِنَّكَ لَا
تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ
اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang
kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya,
dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (QS. Al-Qoshosh [28] : 56)
Dijelaskan dalam hadis shahih, bahwa ayat tersebut
turun kepada Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menjaga dan menolongnya serta
berdiri di dalam barisannya dan amat mencintainya, dengan cinta alami bukan
cinta syar’i. Ketika ajalnya tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
menyerukan iman dan agar masuk ke dalam agama Islam. Akan tetapi qadar telah
menentukan lain dan berlaku atas dirinya, bahwa ia tetap berada dalam kekufuran
dan Allah memiliki hikmah yang amat sempurna.
Itulah rahasia hidayah Allah ta’ala, penuh misteri atas diri kita.
Maka kita harus memahami hakikat hidayah dengan benar. Kemudian mengikhlashkan dan merendahkan diri di
hadapan Allah ta’ala. Senantiasa
berdo’a meminta kepada Allah ta’ala
agar kita diberi hidayah at-taufiq.
Hadirin
kaum muslimin rahimakumullah …
Kedua: hidayah harus dicari. Mengapa demikian? Karena kitalah yang butuh
Allah, termasuk di dalamnya hidayah Allah. Allah ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ
هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan
Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji (QS. Fathir
[35] : 15)
Yakni kita semua berhajat kepada
Allah dalam semua gerakan dan diam kita, sedangkan Allah ta’ala tidak memerlukan sesuatu pun dari kita. Kita yang butuh
hidayah Allah, agar dimudahkan dalam beramal shalih yang mendatangkan rahmat
Allah. Allah ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ
اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Barangsiapa
mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri
balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan
(An-Nahl [16] : 97)
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9] : 105)
Hadirin
kaum muslimin rahimakumullah …
Ketiga: hidayah harus dikejar. Apa maksud ungkapan tersebut? Maksudnya
adalah bahwa kita perlu memastikan mendapat hidayah sebelum kematian mendatangi
kita. Kita sedang berlomba dengan kematian. Jangan sampai ketika kematian
datang justru kita jauh dari jalan hidayah. Allah ta’ala berfirman:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ
اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ
قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۞ وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ
نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْن
Dan infakkanlah sebagian dari apa
yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang
di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau
berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan
aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”
Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu
kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.
(Al-Munafiqun [63] : 10-11)
Hadirin
kaum muslimin rahimakumullah …
Bagaimana cara mengejar hidayah
Allah? Tentunya dengan terus memupuk kesungguhan kita dalam berjuang melawan
hawa nafsu. Dengan terus berkorban, dengan cara mengorbankan jiwa, harta, waktu
dan segala yang kita miliki hanya untuk meraih ridha Allah. Senantiasa taat
pada Allah dan rasulnya tanpa keraguan. Allah ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ
نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang
yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha
Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Al-Baqarah [2[ : 207)
baca juga : Musibah & Nikmat adalah dari ALLAH
Hadirin
kaum muslimin rahimakumullah …
Keempat: hidayah harus dijaga, sebab hidayah itu sifatnya hanya sementara,
bisa hilang sewaktu-waktu jika kita tidak pandai menjaganya. Maka Allah ta’ala
senantiasa mengajarkan do’a kepada kita agar hati kita selalu dicondongkan
kepada jalan hidayah, jangan dicondongkan kepada jalan kesesatan (dholalah).
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا
مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan
petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu,
sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Ali-Imran [3] : 8)
Lalu, bagiamana cara kita menjaga
hidayah? Banyak hal yang bisa kita lalukan. Diantaranya, istiqomah dalam
beribadah, beramal shalih dan berjuang di jalan Allah sampai akhir hayat.
Kemudian senantiasa totalitas dalam beragama dan membersihan fikrah dari
segala penyimpangan. Menjaga ikatan hati dan ruh dengan ikatan aqidah sehingga
terpelihara dari kekufuran dan perpecahan.
Hidayah harus kita minta dengan
sepenuh hati kepada Allah, harus kita cari dengan segenap amal sahalih, harus
kita kejar dengan kesungguhan dan kita jaga dengan keistikomahan. Tidak boleh
ada sedikitpun kesombongan di hati kita, bahwa kita pasti mendapatkan hidayah.
Banyak orang pada awalnya berada di jalan hidayah
namun di akhir hayatnya justru meniti jalan dholalah
(kesesatan). Pun sebaliknya, ada orang yang awalnya meniti jalan dholalah namun pada akhirnya dimudahkan
meniti jalan hidayah.
Marilah terus berharap kepada Allah
agar kita bisa senantiasa meniti jalan hidayah sampai akhir hayat. Aamiin …
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah Kedua
الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرۡسَلَ رَسُولَهُ
بِالۡهُدَىٰ وَدِيۡنِ الۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهِ وَكَفَىٰ
بِاللَّهِ شَهِيۡدًا.
أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا
شَرِيۡكَ لَهُ، وَ أَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَ رَسُوۡلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمۡ عَلَى مَحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ إِلٰي
يَوۡمِ الدِّيۡنِ.
أَمَّا
بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوۡصِيۡكُمۡ وَنَفۡسِي بِتَقۡوَى اللّٰهِ تَعَالٰى
فَقَدۡ فَازَ الۡمُتَّقُوۡنَ.
قَالَ
اللّٰهُ تَعَاليٰ فِي الۡقُرۡاٰنِ الۡكَرِيۡمِ: ((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِيۡنَ
ءَامَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوۡتُنَّ إِلَّا وَ أَنتُم
مُّسۡلِمُون))
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم:
((إِنَّ ٱللَّهَ وَ مَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
ٱلنَّبِيِّ، يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوا
تَسۡلِيمًا))
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ إِنَّكَ
حَمِيۡدٌ مَجِيۡدٌ. وَبَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ، إِنَّكَ حَمِيۡدٌ
مَجِيۡدٌ.
اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ
لِلۡمُسۡلِمِيۡنَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ، وَالۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَالۡمُؤۡمِنَاتِ،
الۡأَحۡيَآءِ مِنۡهُمۡ وَالۡأۡمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيۡعٌ قَرِيۡبٌ مُجِيۡبُ
الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغۡفِرۡ
لَنَا وَلِإِخۡوَانِنَا الَّذِيۡنَ سَبَقُوۡنَا بِالۡإِيۡمَانِ، وَلَا
تَجۡعَلۡ فِي قُلُوۡبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيۡنَ آمَنُوۡا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوۡفٌ
رَّحِيۡم.
رَبَّنَا ظَلَمۡنَا أَنۡفُسَنَا وَإِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ
لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخَاسِرِيۡنَ.
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعۡيُنٍ وَاجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِيۡنَ إِمَامًا.
رَبَنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي
الۡأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
سُبۡحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوۡنَ،
وَسَلَامٌ عَلَى الۡمُرۡسَلِينَ، وَالۡحَمۡدُ لِلّهِٰ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ،
، وَأَقِيۡمُوۡا الصَّلَاةَ...
Seri Naskah
Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY
Edisi 135, Jum’at 2 November 2018
Oleh: : Ust. Muhammad Mujari, S.T
(Bidang Pendidikan dan Pesantren, PW Ikadi
DIY)
Labels:
Khutbah Jumat
Thanks for reading Meniti Jalan Hidayah. Please share...!

1 Comment for "Meniti Jalan Hidayah"
Nice blog
Mantaap