![]() |
| Old Town Batavia_2017 |
yang
terjadi adalah kematian yang mencekam
tertiup
angin kebisuan...
menengadah
pada simbol penantian yang tak berujung
adakah
kebimbangan yang tersembunyi,
menyimpan
kesegala hati yang berbisik ..
tak ada angin kematian yang dapat di berikan
...
hari
ini, esok dan esoknya lagi,
kita
bertindak tanpa batas yang terujung ke penantian
hati
manusia yang terbatas ,
adakah
nyeri yang membumbung
tertahan
pada kepiluan hitam,
menuntut
gelora padam bisu padang hari menjerit halilintar pasti
di
bumi berkecamuk perih, hitam mata manusia menjelajah bisu kepahitan pasti kan
terjadi dalam bilik kebisingan,
matahari
menggelegar menahan kepahitan yang kusam,
bisu
dibalik awan hitam yang berputar menari di himpit angin
persis
mati, persis hidup, persis jiwa kehebatan mengeluarkan nyeri yang tak tertahan
dihantam halilintar yang menjilat rahim pertiwi ,
menangis
kembali di tiup senarai gelisah...
jiwanya
mati...berhimpun... berbisik...
menari
nari dimainkan lidah api..
angin
datang, embun hilang, matahari sunyi cekam bisik kehilangan ...
bertanya
embun yang datang pagi ini..
ah
... besok tak ada lagi angin yang datang, bertemu dalam gengaman bara api
terlalu pagi untuk di buat mata yang merah menangis membisik ,
melihat,
pada kenyataan matahari pekak...
bising..
hunjam setiap sudut mata air yang mengalir...
aku campakkan kegalauan yang tertahan mengalir
di ujung-ujung hidup
Fitrie
Harakie (Tanjoeng Pinang, 11 Februari 2008 )
Labels:
PUISI
Thanks for reading Catatan Kematian Jiwa. Please share...!

0 Comment for "Catatan Kematian Jiwa"
Mantaap