![]() |
| Oleh: Syafitriandy Harakie, terbit di: Batam Pos, 20 Mei 2011 |
Suatu anugerah yang di berikan
pencipta kepada kita ketika
hadir di muka bumi ini dengan menyandang label Muslim. Tanpa perlu bersusah
payah mencari pembenaran akan keyakinan ini, kita sudah mendapatkan justifikasi
dari lingkungan kita berada. Orang tua, keluarga dan lingkungan kita berada
semuanya sudah menggambarkan bahwa kita adalah Muslim. Ini merupakan suatu
keberuntungan yang sangat luar biasa, pernah kah terfikir oleh kita saat
dilahirkan bukan dari rahim seorang ibu yang memeluk Agama Islam dan di
besarkan dalam lingkungan yang bukan beragama Islam. Kita tentu masih
mencari-cari sebuah keyakinan yang ideal dalam konsep ketuhanan yang sebenarnya
kita yakini. Namun sangat patut disayangkan keberuntungan ini tidak kita sikapi
dengan komitmen ber-Islam dengan sesungguhnya. Tak pernah terpikirkan oleh kita
untuk melakukan kontemplasi atau perenungan sesaat, mengasah kepekaan kita
dalam ber-Islam. Sehingga yang terjadi adalah pemilihan kehendak agama kita
sebagai seorang muslim hanya kebetulan saja kita di besarkan dalam lingkungan
yang mempunyai label Islam.
Ketika komitmen ber-Islam ini hanya sebatas pemahaman, karena mayoritas lingkungan kita berada memeluk agama ini. Kita berislam karena kebetulan orang tua kita Islam, dan orang tua kita berislam karena kakek kita memeluk Islam dan seterusnya. Maka yang terjadi adalah pewarisan nilai-nilai Rabbani yang melandasi agama ini akan terkikis . Agama ini tidak lagi berdasarkan dari ajaran Muhammad SAW dang pembawa risalah, namun lebih berakar pada sebuah tradisi ritual yang kerapkali lebih di tonjolkan dari pada memahami esensi Agama Islam itu sendiri. Sehingga yang terjadi di sekeliling kita adalah agama ini merupakan warisan orang tua kita yang kita dapatkan dari kebiasaan masyarakat sekitar kita dengan sebuah warisan turun temurun dan menjadi sebuah kebiasaan masyarakat . Sehingga agama ini tidak lagi merupakan warisan nilai nilai Rabbani namun ia lebih pada sebuah ajaran dari Warisan Sosial. Banyak cara kita beragama karena mengikuti tren masyarakat, bukan lagi pada esensi agama itu. Kebiasaan hidup dalam bermasyarakat dijadikan ibadah rutin yang berakhir pada kewajiban beragama. Dengan melakukan kewajiban ibadah seperti ini sedikit saja terjadi perbedaan dalam melakukan cara pandang akan gampang terjadi benturan. Karena lebih menonjolkan pada tataran emosianal.
Untuk mengatasi hal ini agar
Islam yang kita yakini ini bukan hanya sekedar warisan sosial saja, maka ada
beberapa langkah yang harus kita lakukan. Pertama; Menjadi manusia pembelajar, Sebagai
manusia yang memiliki kematangan
berfikir dan bertindak, kita harus berhasil membuktikan bahwa seorang Muslim
adalah manusia yang harus mampu membangun dirinya dengan kualitas lebih dari
kemampuan rata-rata manusia yang tidak mengenal Islam. Allah Swt telah
memberikan kepada kita lewat Muhammad SAW dengan wahyu yang pertamanya, Iqra (Bacalah). Ini telah cukup
memberikan tanda kepada kita bahwa tak ada jalan lain dalam membangun sebuah
mentalitas masyarakat agar tidak hanyut dalam persepsi warisan terhadap agama,
maka kita perlu membangun paradigma berfikir yang lebih jauh lagi dengan
gagasan yang konstuktif yakni menjadi pembelajar sejati. Pemikiran ilmiah yang
berorientasi pada keimanan hanya bisa kita dapatkan ketika akal manusia diajak
untuk berfikir tentang sebuah ajaran yang berorientasi pada nilai-nilai rabbani
bukan sosio historis.
Kedua; Membangun mentalitas manusia harakoh, Kehidupan dunia yang di berikan Allah
Swt kepada kita bukan sebagai kehidupan pribadi saja namun lebih berorientasi
pada kehidupan sosial, sebab dunia tempat kita hidup merupakan sebuah komunitas
manusia yang beragam, selalu ada intrik dan tarik menarik dalam merealisasikan
kepentingan, untuk itu dalam membangun sebuah pemahaman agama yang tidak hanya
sekedar warisan sosial dari sebuah kebiasaan masyarakat, kita perlu membentuk
sebuah gerakan yang massif dalam kehidupan sehingga apa yang kita dapat kan sebagai
manusia pembelajar bisa di transferkan kedalam sebuah penyadaran kelompok
masyarakat. Sejatinya kita harus mampu menempatkan diri kita dalam sebuah
haraokah atau gerakan keislaman yang massif dan menjadi pioner perubahan,
sehingga Islam yang kita yakini bukan
sekedar warisan sosial.
Jarak hidup kita dengan
kerasulan Muhammad SAW lebih kurang 1400 tahun yang lalu bukanlah merupakan
suatu penghalang bagi kita untuk mendapatkan
mozaik peradaban yang telah di ukir oleh Pemberi Teladan ini, selagi sumber
abadi yang telah ditingalkannya kepada kita, maka jalan itu masih tetap ada; “ aku tinggalkan kepada kalian dua buah
pusaka, selagi kalian masih berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak
akan tersesat selamanya; kitabullah dan sunnaturrasul”. ***
Labels:
CEKGU CAKAP
Thanks for reading ISLAM BUKAN WARISAN SOSIAL. Please share...!

0 Comment for "ISLAM BUKAN WARISAN SOSIAL"
Mantaap