
Oleh: Syafitriandy Harakie, terbit di: Batam Pos, Jum’at , 29 January 2009
Sadarkah kita, tatkala memasuki usia dewasa, tanpa
melalui proses yang berliku, tiba-tiba telah mendapati diri kita seorang
Muslim. Orang tua, suasana rumah, dan lingkungan sekitar, telah membawa kepada suasana batin yang penuh iman dan larut
dalam tradisi ubudiah, dan kita harus bersyukur . Merupakan suatu
keberuntungan ketika dilahirkan dalam
keturunan Islam, karena tanpa di sadari
kita telah terkontaminasi dalam ritualitas ibadah-ibadah yang telah ditetapkan
dalam agama ini. Namun lebih merupakan suatu
keberuntungan bagi kita ketika dalam ber-Islam melakukan pencarian makna ber-Islam
sesungguhnya, dengan melakukan kontemplasi – kontemplasi tanpa meninggalkan ritual
ibadah yang kita pahami selama ini.
Kita meyakini bahwa itu merupakan perintah dari pencipta yang kita kenal dengan nama Allah Swt, suatu zat yang mutlak yang harus diakui oleh umat manusia. Tanpa melakukan kontemplasi tentang makna sesungguhnya dalam berislam, ia sudah terkena percikan–percikan dari lingkaran konsekwensi keimanan. Namun, disinilah letak kejumudan berfikir sebagian kaum muslimin dalam melakukan kontemplasi berislam sesungguhnya, dengan merasa dilahirkan dalam keluarga yang menganut Agama Islam, sudah merasa berislam dengan sesungguhnya, disadari atau tidak, ritual yang kita jalankan adalah sebagai rutinitas ritual belaka.
Tanpa memaknai beribadah dalam arti sesungguhnya maka ibadah yang dilakukan tidak memiliki dimensi spiritual yang membumi dan menghunjam didalam diri manusia. Faktanya ritual ibadah yang kita jalani tidak berbanding lurus dengan implementasi style hidup kita, yang terjadi dilapangan ummat Islam mayoritas dalam kuantitas selalu kalah memenangkan pertarungan eksistensi agamanya di muka bumi, penindasan, pelecehan dan pemasungan hak–hak manusia dan selalu umat Islam dijadikan korban .
Kita meyakini bahwa itu merupakan perintah dari pencipta yang kita kenal dengan nama Allah Swt, suatu zat yang mutlak yang harus diakui oleh umat manusia. Tanpa melakukan kontemplasi tentang makna sesungguhnya dalam berislam, ia sudah terkena percikan–percikan dari lingkaran konsekwensi keimanan. Namun, disinilah letak kejumudan berfikir sebagian kaum muslimin dalam melakukan kontemplasi berislam sesungguhnya, dengan merasa dilahirkan dalam keluarga yang menganut Agama Islam, sudah merasa berislam dengan sesungguhnya, disadari atau tidak, ritual yang kita jalankan adalah sebagai rutinitas ritual belaka.
Tanpa memaknai beribadah dalam arti sesungguhnya maka ibadah yang dilakukan tidak memiliki dimensi spiritual yang membumi dan menghunjam didalam diri manusia. Faktanya ritual ibadah yang kita jalani tidak berbanding lurus dengan implementasi style hidup kita, yang terjadi dilapangan ummat Islam mayoritas dalam kuantitas selalu kalah memenangkan pertarungan eksistensi agamanya di muka bumi, penindasan, pelecehan dan pemasungan hak–hak manusia dan selalu umat Islam dijadikan korban .
Internalisasi diri
Fathi Yakan seorang aktivis gerakan Islam menjelaskan
bahwa ber-Islam dalam arti sesungguhnya dengan orisinalisasi pemahaman dan
pelaksanaan yakni pada tataran teoritis sampai menghadirkan dalam dunia empiris
sehingga menjadikan muslim yang komitmen terhadap Islam dan menginternalisasi
nilai – nilai agama dalam dirinya serta melakukan internalisasi Islam kepada
setiap umat manusia khususnya ummat Islam yakni membentuk pribadi Islam yang
meng-Islamkan pribadi lain (muslim haroki)
Komitmen kepada Islam bukanlah warisan
atau keturunan. Bukan pula komitmen sebatas penampilan luar, melainkan komitmen
menyesuaikan diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Islamisasi diri
sebagai langkah awal internalisasi Islam dalam pribadi diantaranya adalah;
mengislamkan aqidah, ibadah, akhlak, keluarga, lingkungan dan mampu mengalahkan
hawa nafsu serta meyakini bahwa hari esok milik Islam. Setelah internalisasi
Islam kedalam diri, ternyata tidak cukup dengan menata kesholehan pribadi saja.
Harus ada langkah kedua yakni pribadi yang islam itu harus melakukan penetrasi
dengan mengajak orang lain untuk mengikuti langkahnya sehingga terciptalah
pribadi Islami yang membentuk komunitas islami (Muslim Mujahidun). Dalam
melakukan penetrasi, muslim tidak bisa melakukannya sendiri–sendiri harus ada gerakan
yang terorganisir dalam merealisasi keinginan tersebut, inilah yang disebut
dengan Harokah Islamiyah yang merupakan bagian kedua yang harus dilakukan oleh
pribadi–pribadi Islami tersebut yakni; berkontribusi aktif dan mempunyai
komitmen dalam gerakan keislaman dengan cara mempersembahkan hidup dan meyakini
kewajiban berjuang hanya untuk Islam dan memahami pilar–pilar perjuangan Islam.
Tiga langkah rekonstruksi
Agar tercipta jarak yang dekat
antara Islam dan Manusia Muslim sehingga internalisasi nilai rabbani semakin
kuat maka ada tiga tahapan rekonstruksi yang harus dilakukan: pertama, tahapan afiliasi, yakni memperbaharui
afiliasi kaum muslimin kepada Islam kembali, sebab keislaman kaum Muslimin saat
ini lebih banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman
dan kesadaran yang mendalam tentang Islam. Keislaman dengan basis seperti ini
tidak memiliki imunitas yang membuatnya mampu bertahan dari semua bentuk invasi
budaya. Oleh karena itu, sebuah goncangan kecil sudah cukup memadai untuk mengubah
warna kehidupan kaum Muslimin.
Kedua, tahapan
partisipasi, setelah memperbaharui keislaman dan memperbaiki pemahamannya
kepada Islam, setiap Muslim harus dibawa kedalam komunitas Muslim yang besar,
dimana ia menjadi bagian dari masyarakat dan berpartisipasi membangun
masyarakat tersebut. Pada tahapan pertama kita menciptakan manusia Muslim yang
shalih, maka tahapan kedua manusia yang shalih itu kita leburkan kedalam
masyarakat, agar ia mendistribusi keshalihannya kepada yang lain, agar
keshalihan individu itu berkembang menjadi keshalihan kolektif
Ketiga, tahapan
kontribusi, setiap Muslim harus memberikan kontribusi aktif, sekecil apapun
peranannya dalam masyarakat sangat menentukan eksitensi Islam ini di
tengah-tengah kehidupan ummat manusia sehingga berpengaruh dalam setiap dimensi
kehidupan.
Islam,
bagaimanapun dapat dengan mudah memenangkan pertarungan di tataran ideologi dan
pemikiran, meskipun pertarungan yang sesungguhnya terletak diantara kenyataan;
dikeramaian jalanan, di kegaduhan pasar, di belantara politik, di panggung
budaya, di tengah desingan mesiu, dan diseluruh pojok bumi. Oleh karena itu kebenaran Islam layaknya sebuah pedang tajam
yang telah terhunus, dan sedang menanti tangan perkasa dari sang pahlawan.
Inilah tugas yang harus dilakukan
manusia yang mereka terlahir dalam Keturunan Islam, agar Islam tidak hanya labelisasi
saja untuk mendapat legalitas dalam hidup bermasyarakat dan bernegara ending
dari semua itu adalah eksistensi agama ini harus terjaga di muka bumi ini
secara kuantitas dan kualitas tentunya.***
Labels:
CEKGU CAKAP
Thanks for reading Mendekatkan Jarak Antara Islam dan Manusia Muslim. Please share...!
0 Comment for "Mendekatkan Jarak Antara Islam dan Manusia Muslim"
Mantaap